Home > All Articles > Socrates: Legenda Brasil Yang Memerdekakan Sepakbola
Socrates

Socrates: Legenda Brasil Yang Memerdekakan Sepakbola

Brasil memiliki keindahan sekaligus juga kengerian. Kekayaan alam Brasil luar biasa, gairah seninya meluap-luap, tanahnya menjadi surga bagi sepakbola. Namun di satu sisi, ada kengerian hebat yang bercokol di dalamnya. Merajalelanya habitus koruptif, ketidakberdayaan terhadap kriminalitas dan dikendalikan oleh berbagai ketidakbecusan.

Di tengah-tengah kehidupannya yang begitu kontradiktif, Brasil pernah dianugerahi dengan kehadiran seorang maestro lapangan tengah sepakbola yang juga menjadi tonggak perlawanan terhadap segala ketidakbecusan yang membelenggu kemerdekaan. Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira atau yang terkenal dengan nama Socrates.

Lewat kepemimpinan Socrates, timnas Brasil tampil memukau di Piala Dunia 1982. Penampilan Brasil kala itu benar-benar menggenapi stigma bahwa terkadang sebuah tim tidak membutuhkan kemenangan untuk menjadi hebat dan mendapat tempat di hati penikmat sepakbola. Pada perhelatan Piala Dunia 1982, timnas Brasil memiliki segalanya untuk menjadi juara dunia, kecuali medali dan trofi juara sebagai tanda kemenangan mereka.

Lebih dari seorang pesepakbola, kepribadian Socrates yang penuh kontradiksi nyatanya mampu menjadi inspirasi tak tergantikan bagi seluruh rakyat Brasil. Tampil sebagai antidot, semasa hidupnya Socrates terus membuktikan bahwa sejatinya tak ada yang salah dengan demokrasi. Di saat pesepakbola lain memilih untuk hidup aman dengan tunduk sepenuhnya kepada otoritas klub yang dibela, Socrates justru kerap menanamkan budaya demokrasi pada sepakbola. Corinthians pada musim 1978-1984 adalah salah satu klub yang merasakan sendiri nikmatnya untuk tumbuh dalam demokrasi.

Bagi Socrates, semua pihak dalam sebuah klub memiliki hak yang sama untuk bersuara. Selama masih menjadi bagian dari klub – entah itu sebagai jajaran manajerial, pemain ataupun penggemar – semuanya berhak untuk melempar argumen dan terlibat dalam pembahasan isu-isu seputar klub.

Bersama rekan setimnya Socrates memprakarsai “Corinthians Movement” sebuah gerakan yang pada dasarnya bertujuan untuk menghancurkan tembok-tembok eksklusivitas yang menghalangi pemain ataupun penggemar untuk terlibat dalam isu pengelolaan klub serta memberikan pengaruh kepada aspek-aspek di luar sepakbola. Baginya segala sesuatu perlu untuk didiskusikan. Menanamkan budaya demokrasi yang dimulai dari dalam klub tak ubahnya menularkan kebahagiaan kepada mereka yang tak berbahagia.

Ketika Socrates memimpin Brasil pada perhelatan Piala Dunia 1982, Brasil masih tak berkutik dalam cengkraman kediktatoran rezim militer. Senada dengan perkataannya bahwa kehidupan tak melulu tentang pertandingan demi pertandingan di atas lapangan hijau, demi kehidupan yang lebih baik Socrates tanpa ampun kerap memberikan perlawanan kepada mereka yang dengan bengisnya menekan sisi humanis rakyat Brasil. Menggunakan wibawa dan popularitasnya, Socrates mendorong rakyat Brasil untuk bersama-sama memanfaatkan hak pilihnya dalam menundukkan rezim militer.

Bagi Socrates sepakbola adalah tentang keindahan, kebahagiaan dan kemerdekaan. Socrates tak ubahnya seorang protagonis di atas panggung pagelaran drama sepakbola. Socrates mengharamkan segala paham bahwa sepakbola adalah milik penyokong dana atau jajaran elit lainnya. Baginya sepakbola itu begitu merakyat, jembatan yang dapat menghubungkan masyarakat pada kemerdekaan seutuhnya melalui penerapan nilai-nilai demokrasi.

Socrates memang telah wafat. Namun cintanya pada kemerdekaan yang membuatnya begitu istimewa adalah investasi terbesar yang dapat ia berikan kepada sepakbola di atas segala egonya sebagai pesepakbola kelas kakap.

Hari ini Socrates memang telah wafat. Namun warisan yang ditinggalkan peraih 60 cpas bersama timnas Brasil itu takkan ikut terkubur dalam liang lahat. Ranah sepakbola tengah bersiap jelang pesta terbesarnya. Semacam ada perasaan menggelitik sewaktu membayangkan akan seperti apa jadinya jika ia masih hidup saat ini. Mungkin ia akan mengamuk dalam elegansi yang tak pudar dimakan usia. Mungkin ia akan melancarkan aksi-aksi tak tertebaknya untuk membela kehidupan yang sejatinya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan laga sembilan puluh menit apapun, bahkan jika dibandingkan dengan trofi Jules Rimet sekalipun.

Perjalanan Karir Socrates :
TahunKlub

Main

Gol  

1974–1978Botafogo

57

24

1978–1984Corinthians

59

41

1984–1985Fiorentina

25

6

1986–1987Flamengo

11

3

1988–1989Santos                                   5             2
Total

712

(405)

Tim Nasional

1979–1986Brasil

60

22

(MA/DS)

Check Also

Sevilla vs Athletic Club

Prediksi La Liga 2016/2017: Sevilla vs Athletic Club

Prediksi La Liga 2016/2017: Sevilla vs Athletic Club (Odds 0 - 3/4) Karakteristik Tim Sevilla KekuatanMenyerang melalui sayapSangat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>